Saturday, 14 January 2012

Bakso Khalifatullah - Cak Nun

Penjual Bakso
Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobagnya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.
“Selalu begitu, Pak?”, saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.
“Maksud Bapak?”, ia ganti bertanya.
“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”
Ia tertawa. “Ia Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya”
“Maksud Pak Patul?”, ganti saya yang bertanya.
“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.
Aduh gawat juga Pak Patul ini. “Maksudnya?”, saya mengejar lagi.
“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya”.
Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.
Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi saya bilang belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya. Hati saya meneriakkan “Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!”, tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya. Tuhan memberi ‘ijazah’ kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya.
Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul. Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.
Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas sosial saya lebih tinggi darinya. Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya: “Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.
Peradaban saya masih peradaban “milik saya”. Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggungjawab, lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana ‘kapitalisme subyektif posesif’ saya.
30 th silam saya pernah menuliskan kekaguman saya kepada Penjual cendhol yang marah-marah dan menolak cendholnya diborong oleh Pak Kiai Hamam Jakfar Pabelan karena “kalau semua Bapak beli, bagaimana nanti orang lain yang memerlukannya?”
Ilmunya penjual jagung asal Madura di Malang tahun 1976 saya pakai sampai tua. Saya butuh 40 batang jagung bakar untuk teman-teman seusai pentas teater, tapi uang saya kurang, hanya cukup untuk bayar 25, sehingga harga perbatang saya tawar. Dia bertahan dengan harganya, tapi tetap memberi saya 40 jagung.
“Lho, uang saya tidak cukup, Pak”
“Bawa saja jagungnya, asal harganya tetap”
“Berarti saya hutang?”
“Ndaaak. Kekurangannya itu tabungan amal jariyah saya”.
Doooh adoooh…! Tompes ako tak’iye!
Di pasar Khan Khalili semacam Tenabang-nya Cairo saya masuk sebuah took kemudian satu jam lebih pemiliknya hilang entah ke mana, jadi saya jaga tokonya. Ketika dating saya protes: “Keeif Inta ya Akh…ke mane aje? Kalau saya ambilin barang-barang Inta terus saya ngacir pigimane dong….”
Lelaki tua mancung itu senyum-senyum saja sambil nyeletuk: “Kalau mau curi barang saya ya curi saja, bukan urusan saya, itu urusan Ente sama Tuhan….”
Sungguh manusia adalah ahsanu taqwim, sebaik-baik ciptaan Allah, master-piece. Orang-orang besar bertebaran di seluruh muka bumi. Makhluk-makhluk agung menghampar di jalan-jalan, pasar, gang-gang kampung, pelosok-pelosok dusun dan di mana-manapun. Bakso Khlifatullah, bahasa Jawanya: bakso-nya Pak Patul, terasa lebih sedap karena kandungan keagungan.
Itu baru tukang bakso, belum anggota DPR. Itu baru penjual cendhol, belum Menteri dan Dirjen Irjen Sekjen. Itu baru pemilik toko kelontong, belum Gubernur Bupati Walikota tokoh-tokoh Parpol. Itu baru penjual jagung bakar, belum Kiai dan Ulama.

Saturday, 7 January 2012

Info Job Fair / Bursa Kerja GD UNILAND JL.MT HARYONO MEDAN

JOB FAIR MEDAN 3-4 FEBRUARI 2012. GD UNILAND JL.MT HARYONO MEDAN

PERUSAHAAN SEMENTARA:

PT. FIRST RESOURCES GROUP
PT. WILMAR
PT. ASIAN AGRI
PT.SMART Tbk
PT. SUNGAI BUDI GROUP
PT. PHAROS
PT. MAYORA INDAH
PT. INDAH
PT. MATAHARI DEPT STORE
BANK SYARIAH MANDIRI
BANK DANAMON
BNI LIFE INSURANCE
PT.ZURICH TOPAS LIFE
PT. FEDERAL INTERNATIONAL FINANCE Tbk
PT. WOM FINANCE Tbk
PT. SUMMIT FINANCE
AIA FINANCIAL
TRACK ASTRA
AUTO 2000

INFO LANJUT: 085275349117 - 085760879057
BAWA CV ANDA SEBANYAK2 NYA

Info Job Fair / Bursa Kerja Surabaya 27-28 Januari, Gd. DBL ARENA

Perusahaan yang berpartisipasi antara lain :


PT.KARYA DIBYA MAHARDIKA
PT.CITRA BORNEO INDAH
PT.MAYORA INDAH
PT. WOM FINANCE Tbk
PT.PHAROS
PT.PROVIDENT AGRO
PT.KAWAN LAMA
ZURICH TOPAS LIFE
PT ALAM LESTARI UNGGUL
PT.ORANG TUA GROUP
PT.JAYA KONSTRUKSI
BNI LIFE INSURANCE
KAP ANWAR & REKAN – DFK INTERNATIONAL
AXA FINANCIAL MANDIRI
ASTRA CREDIT COMPANIES
BANK SINARMAS
*PT.SANTOS JAYA ABADI (KAPAL API)[/B]

UNTUK INFO LANJUT HUB: 085740039995 - 085275349117
Catatan: (*) Dalam konfirmasi

BAWA BERKAS CV ANDA YANG BANYAK DALAM BENTUK HARD COPY MAUPUN SOFT COPY

Saturday, 31 December 2011

Surat Kepada Kanjeng Nabi - Cak Nun


Ah, Muhammad, Muhammad. Betapa kami mencintaimu. Betapa hidupmu bertaburan emas permata kemuliaan, sehingga luapan cinta kami tak bisa dibendung oleh apa pun. Dan jika seandainya cinta kami ini sungguh-sungguh, betapa tak bisa dibandingkan, karena hanya satu tingkat belaka di bawah mesranya cinta kita bersama kepada Allah.
Akan tetapi tampaknya cinta kami tidaklah sebesar itu kepadamu. Cinta kami tidaklah seindah yang bisa kami ungkapkan dengan kata, kalimat, rebana, dan kasidah-kasidah.Dalam sehari-hari kehidupan kami, kami lebih tertarik kepada hal-hal yang lain.
Kami tentu akan datang ke acara peringatan kelahiranmu di kampung kami masing-masing, namun pada saat itu nanti wajah kami tidaklah seceria seperti tatkala kami datang ke toko-toko serba ada, ke bioskop, ke pasar malam, ke tempat-tempat rekreasi.
Kami mengirim shalawat kepadamu seperti yang dianjurkan oleh Allah karena Ia sendiri beserta para malaikat-Nya juga memberikan shalawat kepadamu. Namun pada umumnya itu hanya karena kami membutuhkan keselamatan diri kami sendiri.
Seperti juga kalau kami bersembahyang sujud kepada Allah, kebanyakan dari kami melakukannya karena kewajiban, tidak karena kebutuhan kerinduan, atau cinta yang meluap-luap. Kalau kami berdoa, doa kami berfokus pada kepentingan pribadi kami masing-masing.
Sesungguhnya kami belum mencapai mutu kepribadian yang mencukupi untuk disebut sebagai sahabatmu, Muhammad. Kami mencintaimu, namun kami belum benar-benar mengikutimu. Kami masih takut dan terus menerus tergantung pada kekuasaan-kekuasaan kecil di sekitar kami. Kami kecut pada atasan. Kami menunduk pada benda-benda. Kami bersujud kepada uang, dan begitu banyak hal-hal yang picisan.
Setiap tahun kami memperingati hari kelahiranmu. Telah beribu-ribu kali umatmu melakukan peringatan itu, dan masing-masing kami rata-rata memperingati kelahiranmu tiga puluh kali. Tetapi lihatlah : kami jalan di tempat. Tidak cukup ada peningkatan penghayatan. Tidak terlihat output personal maupun sosial dari proses permenungan tentang kekonsistenan. Acara peningkatan maulidmu pada kami mengalami involusi, bahkan mungkin degradasi dan distorsi.

Negarawan Agung
Zaman telah mengubah kami, kami telah mengubah zaman, namun kualitas percintaan kami kepadamu tidak kunjung meningkat. Kami telah lalui berbagai era, perkembangan dan kemajuan. Ilmu, pengetahuan, dan teknologi kami semakin dahsyat, namun tak diikuti dahsyatnya perwujudan cinta kami kepadamu.
Kami semakin pandai, namun kami tidak semakin bersujud. Kami semakin pintar, namun kami tidak semakin berislam. Kami semakin maju, namun kami tidak semakin beriman. Kami semakin beriman, namun kami tidak semakin berihsan. Sel-sel memuai. Dedaunan memuai. Pohon-pohon memuai. Namun kesadaran kami tidak. Cinta dan internalisasi ketuhanan kami tidak.
Kami masih primitif dalam hal akhlak—substansi utama ajaranmu. Padahal kami tak usah belajar soal akhlak karena tidak menjadi naluri manusia; berbeda dengan saudara kami kaum Jin yang ilmu tak usah belajar namun akhlak harus belajar. Akhlak kaum jin banyak yang lebih bagus dari kami.
Sebab kami masih bisa menjual iman dengan harga beberapa ribu rupiah. Kami bisa menggadaikan Islam seharga emblem nama dan segumpal kekuasaan. Kami bisa memperdagangkan nilai Tuhan seharga jabatan kecil yang masa berlakunya sangat sementara. Kami bisa memukul saudara kami sendiri, bisa menipu, meliciki, mencurangi, menindas, dan mengisap, hanya untuk beberapa lembar uang.
Padahal kami mengaku sebagai pengikutmu, Ya Muhammad. Padahal engkau adalah pekerja amat keras dibanding kepemalasan kami. Padahal engkau adalah negarawan agung dibanding ketikusan politik kami. Padahal engkau adalah ilmuwan ulung dibanding kepandaian semu kami. Padahal engkau adalah seniman anggun dibanding vulgar-nya kebudayaan kami.
Padahal engkau adalah pendekar mumpuni dibanding kepengecutan kami. Padahal engkau adalah strateg dahsyat dibanding berulang-ulangnya keterjebakan kami oleh sistem Abu Jahal kontemporer.
Padahal engkau adalah mujahid yang tak mengenal putus asa dibanding deretan kekalahan-kekalahan kami. Padahal engkau adalah pejuang yang sedemikian gagah perkasa terhadap godaan benda emas dibanding kekaguman tolol kami terhadap hal yang sama.
Padahal engkau adalah moralis kelas utama dibanding kemunafikan kami. Padahal engkau adalah panglima kehidupan yang tak terbandingkan dibanding keprajuritan dan keseradaduan kepribadian kami. Padahal engkau adalah pembebas kemanusiaan.
Padahal engkau adalah pembimbing kemuliaan. Padahal engkau adalah penyelamat kemanusiaan. Padahal engkau adalah organisator dan manajer yang penuh keunggulan dibanding ketidaktertataan keumatan kami.
Padahal engkau adalah manusia yang sukses menjadi nabi dan nabi yang sukses menjadi manusia, di hadapan kami. Padahal engkau adalah liberator budak-budak, sementara kami adalah budak-budak yang tak pernah merasa ,menyadari, dan tak pernah mengakui, bahwa kami adalah budak-budak.
Sementara kami adalah budak-budak—dalam sangat banyak konteks yang sudah berbincang tentang perbudakan, segera mencari kalimat-kalimat, retorika, dan nada yang sedemikian indahnya sehingga bisa membuat kami tidak lagi menyimpulkan bahwa kami adalah budak-budak.
Di negara kami ini, umatmu berjumlah terbanyak dari penduduknya. Di negeri ini, kami punya Muhammadiyah, punya NU, Persis, punya ulama-ulama dan MUI, ICMI, punya bank, punya HMI, PMII, IMM, Ashor, Pemuda Muhammadiyah, IPM, PII, pesantren-pesantren, sekolah-sekolah, kelompok-kelompok studi Islam intensif, yaysan-yayasan, mubalig-mubalig, budayawan, dan seniman, cendekiawan, dan apa saja.
Yang kami tak punya hanyalah kesediaan, keberanian, dan kerelaan yang sungguh-sungguh untuk mengikuti jejakmu.

Friday, 30 December 2011

Tahun Baruku di Jalanan - Cak Nun



Gambar dipinjam dari  sini
Jika tahun baru tiba, aku mengurung diri di kamar, seharian, semalaman. Aku selalu takut keramaian, sebab dalam keramaian, manusia menari-nari di ombak nilai paling permukaan. Aku selalu sunyi dalam keriuhan, karena dalam keramaian, manusia hanya sekilas-kilas memandang satu sama lain. Keramaian adalah gembok amat rapat bagi ilmu pengetahuan dan kedalaman.
Pijakkan kaki didataran terjal dari tahun ke tahun dari tempatmu masing-masing, juga aku dari tempatku sendiri, tempat yg maaf__ku pilih sendiri.

Apa doa yg kau pilih? Aku mohon supaya Indonesia mulai menemukan akal sehatnya, semoga proses anti pembodohan dibantu oleh para Malaikat, semoga demokratisasi tidak terlalu tahayul, semoga para pemimpin Islam selamat dari atmosfer “shummumbukmun“, serta semoga semua manusia dan kelompok-kelompok manusia dibimbing menemukan “kebenaran yang sejati” dalam “ilallah” yang sesunguh-sungguhnya.

Gusti Allah, kami makhluk yang Engkau istimewakan, namun yang kami himpun adalah kebodohan. Tak sanggup kami temukan “laa ilaaha”  ketika berada di pasar, di kantor, di toko- toko, di bioskop, di mana sajan sehingga “ilallah” kami pun kacau balau. Gusti Allah, sampai hari ini pun belum kami masuki surah Al- Ikhlas-Mu dalam kehidupan sehari-hari, dalam politik, dalam kebudayaan, hukum, ekonomi, dan nurani. Kami ini manusia pra-Ibrahim.

Dengan hati berdebar ku masuki 1991, tahun “furqan“, tahun dikotomi, tahun polarisasi ekstrem antara kegelapan dan cahaya

Perkenankanlah aku memasuki “dunia puisi” (telah bertemu dengan-Mu kah rahasia puisi Qur’an di balik setiap hurufnya?). Sebab, buat sementara puisilah penjaga kejujuranku, obyektivitasku, kejernihan, dan kesejahteraanku.

Seribu Masjid Satu Jumlahnya - Cak Nun


Satu 
Masjid itu dua macamnya 
Satu ruh, lainnya badan 
Satu di atas tanah berdiri 
Lainnya bersemayam di hati

Tak boleh hilang salah satunyaa 
Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu 
Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu 
Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu

Dua 
Masjid selalu dua macamnya 
Satu terbuat dari bata dan logam 
Lainnya tak terperi 
Karena sejati

Tiga 
Masjid batu bata 
Berdiri di mana-mana 
Masjid sejati tak menentu tempat tinggalnya 
Timbul tenggelam antara ada dan tiada

Mungkin di hati kita 
Di dalam jiwa, di pusat sukma 
Membisikkannama Allah ta’ala 
Kita diajari mengenali-Nya

Di dalam masjid batu bata 
Kita melangkah, kemudian bersujud 
Perlahan-lahan memasuki masjid sunyi jiwa 
Beriktikaf, di jagat tanpa bentuk tanpa warna

Empat 
Sangat mahal biaya masjid badan 
Padahal temboknya berlumut karena hujan 
Adapun masjid ruh kita beli dengan ketakjuban 
Tak bisa lapuk karena asma-Nya kita zikirkan

Masjid badan gmpang binasa 
Matahari mengelupas warnanya 
Ketika datang badai, beterbangan gentingnya 
Oleh gempa ambruk dindingnya 
Masjid ruh mengabadi 
Pisau tak sanggup menikamnya 
Senapan tak bisa membidiknya 
Politik tak mampu memenjarakannya

Lima 
Masjid ruh kita baw ke mana-mana 
Ke sekolah, kantor, pasar dan tamasya 
Kita bawa naik sepeda, berjejal di bis kota 
Tanpa seorang pun sanggup mencopetnya

Sebab tangan pencuri amatlah pendeknya 
Sedang masjid ruh di dada adalah cakrawala 
Cengkeraman tangan para penguasa betapa kerdilnya 
Sebab majid ruh adalah semesta raya

Jika kita berumah di masjid ruh 
Tak kuasa para musuh melihat kita 
Jika kita terjun memasuki gengfaman-Nya 
Mereka menembak hanya bayangan kita

Enam 
Masjid itu dua macamnya 
Masjid badan berdiri kaku 
Tak bisa digenggam 
Tak mungkin kita bawa masuk kuburan

Adapun justru masjid ruh yang mengangkat kita 
Melampaui ujung waktu nun di sana 
Terbang melintasi seribu alam seribu semesta 
Hinggap di keharibaan cinta-Nya

Tujuh 
Masjid itu dua macamnya 
Orang yang hanya punya masjid pertama 
Segera mati sebelum membusuk dagingnya 
Karena kiblatnya hanya batu berhala

Tetapi mereka yang sombong dengan masjid kedua 
Berkeliaran sebagai ruh gentayangan 
Tidak memiliki tanah pijakan 
Sehingga kakinya gagal berjalan

Maka hanya bagi orang yang waspada 
Dua masjid menjadi satu jumlahnya 
Syariat dan hakikat 
Menyatu dalam tarikat ke makrifat

Delapan 
Bahkan seribu masjid, sjuta masjid 
Niscaya hanya satu belaka jumlahnya 
Sebab tujuh samudera gerakan sejarah 
Bergetar dalam satu ukhuwah islamiyah

Sesekali kita pertengkarkan soal bid’ah 
Atau jumlah rakaat sebuah shalat sunnah 
Itu sekedar pertengkaran suami istri 
Untuk memperoleh kemesraan kembali

Para pemimpin saling bercuriga 
Kelompok satu mengafirkan lainnya 
Itu namanya belajar mendewasakan khilafah 
Sambil menggali penemuan model imamah

Sembilan 
Seribu masjid dibangun 
Seribu lainnya didirikan 
Pesan Allah dijunjung di ubun-ubun 
Tagihan masa depan kita cicilkan

Seribu orang mendirikan satu masjid badan 
Ketika peradaban menyerah kepada kebuntuan 
Hadir engkau semua menyodorkan kawruh

Seribu masjid tumbuh dalam sejarah 
Bergetar menyatu sejumlah Allah 
Digenggamnya dunia tidak dengan kekuasaan 
Melainkan dengan hikmah kepemimpinan

Allah itu mustahil kalah 
Sebab kehidupan senantiasa lapar nubuwwah 
Kepada berjuta Abu Jahl yang menghadang langkah 
Muadzin kita selalu mengumandangkan Hayya ‘Alal Falah!

(EAN,1987)

Menangis - Cak Nun


   Sehabis   sesiangan   bekerja   di    sawah-sawah  serta  disegala  macam
   yang   diperlukan   oleh  desa  rintisan   yang  mereka  dirikan jauh  di
   pedalaman,    Abah   Latif   mengajak    para   santri   untuk   sesering
   mungkin  bersholat  malam.

   Senantiasa    lama    waktu   yang   diperlukan,   karena   setiap   kali
   memasuki   kalimat   "   iyyaka    na'budu "  Abah Latif  biasanya lantas
   terhenti      ucapannya,      menangis     tersedu-sedu      bagai     tak
   berpenghabisan.

   Sesudah   melalui  perjuangan   batin yang   amat  berat untuk  melampaui
   kata   itu,   Abah   Latif   akan   berlama-lama   lagi   macet  lidahnya
   mengucapkan  "  wa  iyyaka  nasta''in" .

   Banyak   di   antara   jamaah  yang   turut  menangis,  bahkan  terkadang
   ada  satu  dua  yang  lantas  ambruk  ke lantai   atau  meraung-raung.

   "Hidup   manusia   harus   berpijak,    sebagaimana  setiap  pohon  harus
   berakar,"   berkata  Abah Latif  seusai  wirid   bersama,  "  Mengucapkan
   kata-kata    itu    dalam    Al-fatihah   pun   harus   ada   akar   d  an
   pijakannya   yang  nyata  dalam   kehidupan.    'Harus'   di  situ  titik
   beratnya    bukan   sebagai   aturan,    melainkan   memang   demikianlah
   hakikat   alam,   di   mana   manusia    tak   bisa  berada  dan  berlaku
   selain  di  dalam hakikat  itu."

   "Astaghfirulloh,   astaghfirulloh..,"  gemeremang mulut  para  santri.

   "  Jadi,  anak-anakku,"  beliau  melanjutkan,   "  apa  akar  dan pijakan
   kita  dalam  mengucapkan  kepada  Alloh    ..iyyaka  na'budu?"

   "Bukankah tak  ada  salahnya  mengucapkan  sesuatu   yang  toh  baik  dan
   merupakan   bimbingan  Alloh   itu    sendiri,  Abah?"  bertanya  seorang
   santri.

   "Kita    tidak   boleh   mengucapkan   kata,  Nak,   kita   hanya   boleh
   mengucapkan kehidupan."

   "Belum  jelas  benar  bagiku,  Abah?"

   "   Kita   dilarang  mengucapkan kekosongan,   kita  hanya  diperkenankan
   mengucapkan  kenyataan."

   "Astaghfirulloh,   astaghfirulloh..,"  geremang mulut  para  santri.

   Dan   Abah   Latif   meneruskan,    "   Sekarang ini  kita  mungkin sudah
   pantas   mengucapkan     iyyaka   na'budu.KepadaMu  aku  menyembah.Tetapi
   kaum   Muslimin   masih belum  memiliki  suatu   kondisi  keumatan  untuk
   layak  berkata  kepadaMu  kami  menyembah,   na'budu."

   "Al-Fatihah   haruslah   mencerminkan  proses    dan  tahapan  pencapaian
   sejarah  kita   sebagai   diri   pribadi    serta  kita  sebagai  ummatan
   wahidah.Ketika   sampai  di kalimat  na'budu,   tingkat  yang harus  kita
   telah   capai   lebih   dari  abdullah, yakni khalifatulloh.Suatu  maqom
   yang   dipersyarati   oleh   kebersamaan   kamu  muslim  dalam  menyembah
   Alloh   di  mana   penyembahan   itu    diterjemahkan   ke  dalam  setiap
   bidang  kehidupan.Mengucapkan   iyyaka   na'budu   dalam  sholat mustilah
   memiliki  akar  dan pijakan  di  mana  kita kaum   muslim  telah  membawa
   urusan  rumah  tangga,  urusan perniagaan,  urusan   sosial  dan  politik
   serta  segala  urusan  lain  untuk  menyembah   hanya  kepada  Alloh.Maka
   anak-anakku,  betapa  mungkin dalam  keadaan kita  dewasa ini lidah kita
   tidak   kelu   dan  airmata   tak   bercucuran  tatkala  harus mengucapan
   kata-kata itu?"

   "Astaghfirulloh,   astaghfirulloh..,"  gemeremang   para  santri.

   "Al-fatihah    hanya  pantas   diucapkan   apabila  kita   telah   saling
   menjadi   khalifatulloh   di dalam  berbagai   hubungan  kehidupan.Tangis
   kita  akan   sungguh-sungguh   tak   tak    berpenghabisan  karena dengan
   mengucapkan  wa   iyyaka  nasta'in, kita  telah   secara  terang-terangan
   menipu   Tuhan.Kita   berbohong  kepada-Nya   berpuluh-puluh  kali  dalam
   sehari.Kita  nyatakan  bahwa   kita  meminta   pertolongan  hanya  kepada
   Alloh,   padahal    dalam    sangat    banyak  hal  kita   lebih   banyak
   bergantung   kepada  kekuatan,  kekuasaan   dan   mekanisme   yang   pada
   hakikatnya melawan Alloh."

   Astaghfirulloh,   astaghfirulloh..,"  geremang mulut   para  santri.

   "Anak-anakku,  pergilah   masuk  ke dalam   dirimu  sendiri,  telusurilah
   perbuatan-perbuatanmu   sendiri,   masuklah ke   urusan-urusan manusia di
   sekitarmu,     pergilah     ke      pasar,     ke     kantor-kantor,    ke
   panggung-panggung  dunia   yang   luas:    tekunilah,   temukanlah  salah
   benarnya  ucapan-ucapanku  kepadamu.Kemudian  peliharalah   kepekaan  dan
   kesanggupan    untuk    tetap     bisa   menangis.Karena   alhamdulillah,
   seandainya    sampai   akhir  hidup    kita  hanya  diperkenankan   untuk
   menangis   karena   keadaan-keadaan  itu  :   airmata  saja  pun  sanggup
   mengantarkan  kita  kepada-Nya."

(EAN,1987)

  Dari  :
   Seribu  Masjid  Satu Jumlahnya
   Tahajjud  cinta  seorang  hamba